Travel

Kabupaten Batang Kembangkan Wisata Alam Untuk Berdayakan Masyarakat

Warta Event – Batang. POTENSI wisata alam di Kabupaten Batang superti i, Curug Gombong, Agrowisata Pagilaran, Kawasan Hutan Pinus Sikembang, Pantai Ujungnegoro, Pantai Cemorosewu, Batang Dolphins Center, Wisata Tubing Desa Pandansari, Workshop Batik Tiga Negara, pembuatan emping di Desa Limpung, dan paralayang di Bukit Sikuping, menjadi andalan di Kabupaten yang bersebelahan dennen Kota Pekalongan.

Wihaji, Bupati Batang, saat menjamu sejumlah media nasional dari Jakarta pada Hari Jum’at tanggal (04/05/2018) lalu di rumah dinas Bupati Batang, mengatakan, Kekuatan wisata Batang adalah alam. Sebab, tidak semua daerah memiliki gunung dan laut yang berdekatan. Orang berwisata karena ingin melihat sesuatu, terutama alam.

Sebagai sektor baru yang masih dikembangkan. Saat ini destinasi wisata yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah Agrowisata Pagilaran, Wisata Paralayang, Hutan Pinus Sikembang, dan Puncak Patran. Sementara itu, destinasi wisata penunjangnya adalah pantai-pantai, air terjun (curug), dan dolphin centre.

“Destinasi-destinasi ini dipilih karena memiliki tiga alasan. Pertama karena unik dan menawarkan sesuatu yang baru dari daerah sekitar, memiliki potensi wisata alam, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitarnya,” jelas Wihaji kembali.

Dalam mengembangkan destinasi wisata di Kabupaten Batang, pemerintah daerah berusaha menata dan memperbaiki aksesibilitas, meningkatkan amenitas dengan membangun glamping serta homestay, dan memberi nilai tambah baru pada atraksi melalui pembangunan spot yang Instagramable di tiap destinasi wisata.

Menurut Wihaji, Kabupaten Batang memiliki kekuatan pada alamnya dan didukung pula oleh keberadaan jalur Pantura yang menjadi pelintasan menuju beberapa propinsi serta kota di Pulau Jawa. Melihat potensi ini, Wihaji berkesimpulan bahwa pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan asli daerahnya.

“Dari riset yang pernah saya baca, di beberapa daerah pendapatan dari pariwisata dapat mengalahkan oil dan gas. Tim ahli saya juga pernah mendampingi di satu daerah penghasil mineral yang sekarang penghasilannya kalah dari penghasilan dari sektor pariwisatanya. Dengan pariwisata, masyarakat yang tidak sekolah bisa dididik dan dilatih sehingga bisa diberdayakan. Jadi, permasalahan pendidikan pun akhirnya bisa teratasi,” jelas Wihaji.

Bupati Wihaji pun mencontohkan daerah Sikembang yang sekarang dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata yang dapat menciptakan lapangan kerja bagi para pemudanya. Hutan pinus bekas area sadapan getah ini sebelumnya tidak terawat, sekarang menjadi area outbound, camping ground, serta destinasi wisata yang instragramable. Pada semester pertama sejak beroperasi di 2017, Sikembang dikunjungi 104.000 wisatawan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh ketua Pokdarwis Bombat (Bocah Mbanturan), Wahyu Dwiyanto, dulu area wisata Sikembang ini tempat nongkrong anak muda yang nakal dan menganggur, belum lagi banyak sampah. “Tapi kami berinisiatif membersihkan dan membangun sejumlah fasilitas. Bekerja sama dengan Perhutani, kami akhirnya membuka tempat wisata dan menarik tiket Rp3000. Sekarang area wisata ini bisa menjadi lapangan kerja untuk pemuda desa Kembang Langit,” terang Wahyu Dwiyanto.

Kreativitas dan keberhasilan pemberdayaan masyarakat Kabupaten Batang di beberapa destinasi wisata, membuat Wihaji belum gencar mencari investor untuk objek wisata. “Untuk saat ini masih belum gencar mencari investor, saya lebih memilih memberdayakan masyarakat dulu. Kalau sudah siap, baru investor masuk untuk memberikan percontohan pengelolaan destinasi. Ini saya lakukan karena saya tidak mau masyarakat Batang hanya jadi penonton saja,”ujar Wihaji.

Sementara itu untuk infrastruktur penunjang dibantu investor dari timur terngah, Batang akan membangun superblock yang dilengkapi fasilitas hotel berbintang, mall, serta pusat hiburan pada 2019. Melalui pengembangan sektor pariwisata, ekonomi dapat digerakkan dan masyarakat dapat diberdayakan. Sesuai dengan konsep yang sering digaungkan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, “Pariwisata semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan.” [Fatkhurrohim]