JAKARTA, WARTAEVENT.com — Masa kecil Kemal, 17 tahun, tidak berjalan seperti kebanyakan anak seusianya. Diagnosis medulloblastoma atau kanker otak membuat perjalanan pendidikannya terhenti selama bertahun-tahun.
Pengobatan dan efek kemoterapi membuat ruang gerak Kemal terbatas. Waktu yang semestinya diisi dengan belajar, bermain, dan bertemu teman sebaya harus berganti dengan rangkaian pengobatan yang panjang.
Baca Juga : IVRA 7th: Konferensi Internasional Hyperthermia Pertama di Indonesia untuk Terapi Kanker
Namun, kanker tidak serta-merta menghapus mimpi seorang anak.
Kisah Kemal menjadi gambaran bahwa perjuangan anak dengan kanker tidak hanya berlangsung di ruang perawatan. Ada kehidupan yang ikut terdampak, mulai dari pendidikan, hubungan sosial hingga perkembangan psikososial.

Dalam jurnal Gambaran Masalah Psikososial Pada Anak Usia Sekolah Dengan Kanker di Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu, Delloso, Gannoni & Roberts (2021) menyebut anak dengan kanker dapat mengalami gangguan kehadiran di sekolah, penurunan fungsi kognitif, serta kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekolah akibat proses pengobatan.
Persoalan tersebut mendorong Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia untuk memberikan pendampingan yang tidak berhenti pada kebutuhan medis.
Baca Juga : Studi Fashion di London, Aimee Mihardja Dedikasikan untuk Penderita Kanker
Melalui dukungan psikososial pekerja sosial tersertifikasi Kemensos, bantuan nutrisi bulanan, kegiatan edukatif dan rekreatif, serta pendampingan psikolog bagi anak dan keluarga, Pita Kuning berupaya menjaga agar anak tetap memiliki ruang untuk tumbuh.
Semangat itu diusung melalui kampanye “New Paths to Dreams” dalam rangka Childhood Cancer Awareness Month yang diperingati setiap September.










