Dalam Siaran Pers resminya, Jum’at, (12/6/2026), Kementerian Pariwisata (Kemenpar), terus mendorong kuliner lokal untuk “Naik Kelas”, salah satunya melalui apresiasi terhadap inovasi para pelaku usaha kuliner di ajang Grab Bintang 5 Awards. Inovasi lewat penjenamaan (branding) yang kuat terbukti sukses memperluas pasar.
Kuliner tradisional kini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan mampu bersanding sejajar dengan kafe-kafe modern dalam memperebutkan dompet anak muda dan masyarakat kelas atas.
Baca Juga : Orom Sasadu Kontemporer: Tradisi Suku Sahu dalam Tafsir Zaman di Festival Teluk Jailolo
Namun, dari sisi sosiologis, ada nilai yang perlahan hilang. Daya tarik utama Warteg atau nasi goreng gerobak konvensional adalah sifatnya yang demokratis. Di sana, seorang sopir ojek daring dan manajer kantor bisa duduk bersebelahan menikmati hidangan yang sama tanpa rasa canggung.
Makanan bertindak sebagai pemersatu kelas sosial. Ketika ruang itu diubah menjadi lebih eksklusif, sekat sosial kembali menebal karena filter harga dan atmosfer tempatnya.

Inovasi dalam dunia kuliner memang penting agar makanan lokal tidak tenggelam digilas zaman. Kita tidak bisa melarang Nasgero tampil kekinian atau Warteg Salira mempercantik tempatnya.
Namun sebagai konsumen, kita perlu merenung: saat menyantap makanan tersebut, apakah kita benar-benar menikmati rasa otentiknya, atau kita hanya sedang membeli validasi agar terlihat keren di media sosial?
Baca Juga : NASINUSA Nasi Goreng Berbagai Rasa, Cobain Deh yang Nasi Goreng Espresso Pasti Unik Rasanya
Sebab, kemewahan sejati dari kuliner Indonesia bukanlah pada estetika tempatnya, melainkan pada keaslian rasa dan kehangatan interaksi manusia di dalamnya. Bagaimana sudut pandang kalian melihat fenomena ini?
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Penulis : Muhammad Rizqi Ashari I Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang
- Editor : Fatkhurrohim











