“Apa yang kita hadapi seperti kebakaran hutan, banjir bahkan runtuhnya gletser atau bongkahan es di wilayah pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet adalah peringatan nyata untuk kita memperbaiki alam dan lingkungan kita,” ujar Akbar.
Melalui pendekatan visual, pesan lingkungan tidak disampaikan sebagai data atau laporan, melainkan sebagai pengalaman emosional. Pengunjung diajak melihat perubahan alam melalui simbol, warna, dan imajinasi yang dibangun masing-masing seniman.
Baca Juga : Paviliun Raden Saleh Dibuka, Hadirkan Ruang Seni Baru Jakarta
Pameran ini juga membawa dimensi sosial. Karya-karya yang ditampilkan terbuka untuk dijual. Sebagian hasil penjualan dan dukungan mitra akan diarahkan untuk berbagai kegiatan sosial, termasuk pemberdayaan pelukis anak berkebutuhan khusus serta program kepedulian lingkungan.

Program tersebut mencakup kampanye kesadaran publik hingga kegiatan pelestarian ekosistem. Dengan demikian, kehadiran pengunjung dan kolektor tidak berhenti pada apresiasi karya, tetapi turut mendukung gerakan sosial dan lingkungan yang menjadi bagian dari pameran.
Art for Peace and a Better Future: Collaboration mendapat dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah mitra seni dan budaya.
Baca Juga : ArtScience Museum Hadirkan Pameran NOX: Eksplorasi Relasi Manusia dan Mesin
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana ruang seni dapat menjadi tempat bertemunya ekspresi kreatif dengan isu yang lebih luas. Di tengah ancaman perubahan lingkungan, kanvas menjadi salah satu medium bagi seniman untuk mengajak publik kembali memikirkan hubungan manusia dengan alam. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim











