Dubes Dino : Perubahan Iklim Harus Jadi Prioritas Utama Dunia

Dino dalam pembukaan Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 bertema “It’s Time to Deliver!” di Jakarta, Sabtu, (1/8/2026), mengatakan Perubahan iklim berada di atas segalanya, seharusnya itu menjadi tujuan nomor satu. Jika kita tidak mengatasi iklim dengan benar, kita akan kalah dalam segala hal lainnya.

Meski begitu, Dino mengapresiasi negara-negara yang sudah maju dalam transisi energi. Pakistan menaikkan energi terbarukan dari 2% ke 32% dalam lima tahun. Uruguay dan Brasil mencapai 90% listrik dari energi bersih. Bhutan bahkan berstatus “negative zero emission”.

Dino berharap Pemerintah Indonesia dalam forum G20 bisa mendesak Pemerintah AS agar segera kembali pada komitmen perubahan iklim yang tertuang dalam dokumen tersebut.

Baca Juga : Indonesia Harus Membangun Kredensial sebagai Honest Broker untuk Menjadi Bridge Builder

Dia meyakini, Indonesia saat ini punya peran yang cukup kuat di forum G20. Jadi, Pemerintah Indonesia ia harapkan mau bersuara di forum tersebut dan mendesak pertanggungjawaban Amerika Serikat. AS harus kembali ke Perjanjian Iklim Paris dan bergabung dalam perjuangan iklim,” tegas Dino.

Krisis Air Jadi Sorotan Retno Marsudi

Utusan Khusus Sekjen PBB untuk isu Air, Retno Marsudi, juga menyoroti dampak perubahan iklim pada krisis air. “Perubahan iklim adalah pengganda ancaman yang memperburuk semua tantangan di isu air,” katanya.

Retno menyebut air bukan hanya masalah teknis, tapi juga masalah politik dan pembangunan. Untuk mencapai SDGs 6 tentang air bersih dan sanitasi pada 2030, Indonesia perlu percepatan 8 kali lipat untuk air minum aman, enam kali lipat untuk sanitasi aman, dan dua kali lipat untuk layanan kebersihan dasar. Jika tidak, target baru tercapai 2049.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil. Saat ini 86% pembiayaan air dan sanitasi masih dari anggaran publik, sementara swasta hanya 2%.

Baca Juga : Pak Jusuf Kalla Mengundang ICWA untuk Bahas Situasi Timur Tengah yang Makin Bergejolak

Data global menunjukkan 2,2 miliar orang belum punya akses air minum aman dan 3,5 miliar orang tanpa sanitasi layak. Sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air. Ke depan, dengan populasi 9,7 miliar pada 2050, kebutuhan pangan naik 50% dan kebutuhan air naik 25%. Ditambah, 72% air segar dipakai untuk pertanian dan pusat data juga makin butuh air.

Penutupnya, Retno menegaskan aksi iklim dan air harus dikerjakan bersama seluruh pihak. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

  • Penulis : Alisia Rukmantini
  • Editor : Fatkhurrohim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *