Strategi ini, lanjutnya, menciptakan sekuens ruang yang gradual—sebuah perjalanan spasial yang mengalir dari publik ke semi-privat dengan ritme yang terukur. Dalam perspektif desain interior, pendekatan ini memperkuat layering experience sekaligus mempertegas hirarki ruang.
Fasad bangunan menampilkan eksplorasi elemen geometris yang subtil, merepresentasikan esensi Borobudur tanpa terjebak dalam pendekatan literal. Bahasa desain ini menghasilkan identitas visual yang kontemporer, sekaligus kontekstual terhadap lanskap budaya Magelang.
Baca Juga : Perkuat Infrastruktur Hospitality dan MICE, Artotel Group Resmikan Hotel Grand Maya by ARTOTEL
Salah satu elemen interior paling menonjol adalah atrium oval yang meruncing ke atas dari mezzanine hingga rooftop. Elemen ini berfungsi sebagai void vertikal yang mengoptimalkan daylighting dan cross ventilation, sekaligus menjadi focal point ruang.
Kualitas pencahayaan alami yang terfilter menghadirkan atmosfer yang tenang, monumental, namun tetap intim—sebuah kualitas ruang yang jarang dicapai dalam desain hospitality.

Pendekatan ini memiliki benang merah dengan proyek ARTOTEL Gajahmada Semarang, di mana Andra Matin mengeksplorasi konsep spiral sebagai transformasi ide kontekstual menjadi bahasa arsitektur modern.
Di Artotel Leguna Magelang, narasi tersebut berkembang menjadi pengalaman spasial yang lebih reflektif dan berlapis.
Baca Juga : Perkuat Infrastruktur Hospitality dan MICE, Artotel Group Resmikan Hotel Grand Maya by ARTOTEL
Melalui proyek ini, ARTOTEL Group dan Andra Matin kembali menunjukkan bahwa desain interior dan arsitektur bukan sekadar estetika, melainkan medium untuk menerjemahkan budaya ke dalam pengalaman ruang yang relevan dan kontemporer. (*)
- Editor : Fatkhurrohim












