Pertama adalah wisata wastra. Made mengatakan kekayaan wastra Indonesia tak bisa dibantah lagi. Salah satunya bahkan tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO dengan Pekalongan sebagai Kota Batik masuk dari UNESCO Creative Cities Network dalam kategori Kerajinan dan Kesenian Rakyat sejak 1 Desember 2014.
Namun, ia menilai Pekalongan masih belum memanfaatkan batik sebagai subjek utama wisata pengalaman dengan maksimal. Padahal, wisatawan bisa diajak lebih mengenal wastra kebanggaan Indonesia lewat berbagai kegiatan interaktif yang dikemas dengan menarik.
Kedua adalah wisata seni dan budaya. Kekayaan budaya Indonesia yang melimpah masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh para pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia. Made pun mendorong agar pelaku membuat paket wisata yang lebih menarik, salah satunya memanfaatkan tren walking tourism yang berkembang luas.
“Walking tour itu bagus sekali dan itu menjadi tren sekarang. Misalnya kita bisa padukan art and culture, wastra tourism, marine tourism, dengan walking tour ini, Indonesia akan sangat menarik dan experience-nya dapat. Semakin kreatif, semakin menarik, semakin berbeda, itu yang dicari oleh wisatawan sekarang,” tutur Made.

Keuntungan lain yang didapatkan lewat paket wisata yang variatif tersebut adalah mencegah terjadinya mass tourism. Itu karena wisatawan bisa terpecah ke berbagai destinasi, bukan menumpuk di satu destinasi tertentu.
Sementara, CEO Werkudara Group Fadli Fahmi Ali menekankan bahwa banyaknya aset yang dimiliki Indonesia, baik alam maupun budaya, harus melalui berbagai tahapan sebelum bisa menjadi sesuatu yang bernilai, dalam hal ini sebagai paket wisata pengalaman yang menjual.
Nilai tersebut bisa muncul dengan dirancang secara sengaja agar bisa dialami oleh wisatawan. Prosesnya dimulai dengan meriset kekuatan yang dimiliki aset tersebut, seperti kekuatan kisahnya, sosok di balik aset budaya tersebut, makna dari aset tersebut, dan sebagainya.











