Berbekal hasil riset, pihaknya kemudian merancang kegiatan yang menarik agar wisatawan tertarik mengalaminya sendiri. Rancangan kegiatan itu selanjutnya distandardisasi agar bisa diterima pasar dan tercipta nilai.
“Value itu terdiri dari beberapa macam layer. Jadi, kita harus mendesain berbagai macam layer untuk bisa menjadi suatu nilai dari suatu aset, dari objeknya, personnya, traditionnya, dan sebagainya,” kata Fadli.
Itu pula yang disadari oleh Rizki Ayu Ramadhana, Penanggung Jawab Pengembangan Bisnis, Pemasaran, dan Pemanfaatan Akses Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesia Heritage Agency (IHA). MCB saat ini diserahi wewenang mengelola 17 museum dan 20 cagar budaya di berbagai tempat di Indonesia.
“Kami punya aset cukup banyak. Kami butuh partner kolaborasi untuk mengaktivasinya,” kata Rizki.

Kolaborasi sejauh ini sudah dilakukan dengan banyak pihak, tetapi masih didominasi oleh pembuatan suvenir atau merchandise untuk dijual di IHA Store. Sementara, program-program pengayaan pengalaman dengan membuat sederet aktivasi di antaranya dilakukan dengan menggelar Yoga di Museum, Menginap di Museum, hingga Makan Malam di Candi Plaosan.
“Kita sebenarnya negara yang adidaya di bidang kebudayaan, tinggal butuh teman-teman untuk berkolaborasi untuk menghidupkan, karena aset kami cukup banyak, cuma kita memang punya keterbatasan untuk mengembangkannya,” kata Rizki.
ITMO 2027 terselenggara berkat dukungan dari berbagai pihak, yakni Kementerian Pariwisata, Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, Injourney, Injourney Hospitality, Kokola, Indofood, Yogadihotel, TWC Borobudur, Prambanan Dan Ratu Boko (InJourney Destination Management), dan Tanjung Lesung. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim











