Menghubungkan Budaya dengan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Potensi budaya juga dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi lokal. Pertunjukan seni, permainan tradisional, pengetahuan budaya, dan kreativitas masyarakat merupakan kekayaan yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman edukatif sekaligus sarana memperkenalkan identitas desa.
JIMAT NGABUDAYA CIMENYAN membuka peluang untuk menghubungkan kegiatan budaya dengan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), promosi digital, serta pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Pelaku UMKM dapat memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk lokal. Generasi muda dapat terlibat dalam dokumentasi digital dan publikasi. Sementara itu, seniman dan komunitas budaya dapat memperluas ruang apresiasi terhadap karya mereka.
Namun, pengembangan tersebut membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Kebudayaan tidak seharusnya diperlakukan semata-mata sebagai komoditas untuk menarik pengunjung. Masyarakat pemilik budaya tetap harus memiliki peran utama dalam menentukan bagaimana tradisi ditampilkan, dikembangkan, dan dimanfaatkan.
Kepala Desa Cimenyan, Ade Supratman, menyambut baik kehadiran Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung yang turun langsung untuk mengenali potensi dan peluang pengembangan desa.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Harapan itu menjadi penting karena pengembangan potensi lokal membutuhkan kerja bersama, bukan hanya pelaksanaan satu kegiatan.
Menjaga Keberlanjutan, Melampaui Panggung Pertunjukan

JIMAT NGABUDAYA CIMENYAN direncanakan berlangsung setiap bulan pada minggu terakhir. Agenda rutin tersebut diharapkan menjadi ruang pembinaan budaya yang berkesinambungan, memperkuat partisipasi warga, dan menyiapkan generasi penerus.
Kegiatan ini juga membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat melalui pemetaan potensi, penguatan kelembagaan, pendampingan UMKM, promosi digital, dan evaluasi program.
Kehadiran mahasiswa Pascasarjana program Studi Pariwisata Terapan, Mohammed Aira Pratama dan Livia Zefani, serta Suryana, S.P., selaku Admin Pascasarjana, turut menjadi bagian dari keterlibatan sivitas akademika dalam kegiatan tersebut.
Agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial, keberlanjutan program membutuhkan pembagian tanggung jawab, jadwal kegiatan, serta indikator keberhasilan yang disepakati bersama.
Peningkatan partisipasi generasi muda, bertambahnya kelompok seni yang memperoleh pendampingan, tersedianya dokumentasi budaya, dan keterlibatan UMKM dapat menjadi sejumlah indikator untuk mengevaluasi perkembangan program.
Pada akhirnya, masa depan JIMAT NGABUDAYA CIMENYAN tidak hanya ditentukan oleh meriahnya pertunjukan atau banyaknya masyarakat yang hadir. Keberhasilannya akan terlihat dari kemampuan masyarakat menjaga tradisi, menyiapkan generasi penerus, memperkuat kelembagaan, dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.
Dari halaman Kantor Desa Cimenyan, kacapi suling dan egrang menghadirkan pesan sederhana: budaya akan tetap hidup ketika masyarakat memiliki ruang untuk mengenal, mengalami, mempelajari, dan mengembangkannya.
Merawat budaya berarti menjaga identitas. Menyiapkan generasi penerus berarti menjaga keberlanjutan. Dan memberdayakan masyarakat berarti memastikan bahwa warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan desa. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim
- Photo : Dok. Ki Dalang Wawan Ajen











