Travel

Menpar Arief: Konektivitas Udara Menjadi Kelemahan Pariwisata Indonesia

Warta Event – Jakarta. Guna memperkuat sinergitas seluruh elemen serta mewujudkan target nasional pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada tanggal 30-31 Maret 2017 menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta.

Rakornas Pariwisata I-2017 yang mengangkat tema “Indonesia Incorporated:Synergies for Better Tourism Connectivity” mengagendakan sejumlah topik bahasan antara lain dukungan dan komitmen kementerian dan lembaga terkait dalam membangun konektivitas udara, laut, dan darat dalam mendukung target pariwisata serta kendala di lapangan dan bagaimana solusinya dipecahkan dalam diskusi panel/workshop.

Pemerintah dalam program pembangunan lima tahun ke depan fokus pada sektor; infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata. Penetapan kelima sektor ini dengan pertimbangan signifikansi perannya dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang terhadap pembangunan nasional.

Dari lima sektor tersebut pariwisata ditetapkan sebagai leading sector karena dalam jangka pendek, menengah, dan panjang pertumbuhannya positif. Hal ini terlihat peran pariwisata dunia dalam memberikan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global mencapai 9,8%, kontribusi terhadap total ekspor dunia sebesar US$ 7,58 triliun dan foreign exchange earning sektor pariwisata tumbuh 25,1%.

Pertumbuhan positif pariwisata dunia memberi dampak positif terhadap pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo mentargetkan pertumbuhan pariwisata nasional dua kali lipat pada 2019 dengan target memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8%, devisa yang dihasilkan Rp 280 triliun.

image
Arief Yahya, Menteri Pariwisata mengatakan, konektivitas udara menjadi salah satu kelemahan pariwisata Indonesia. Untuk memenangkan persaingan global kelemahan ini harus segera diperbaiki dan ditingkakan kualitasnya karena sekitar 90% kedatangan wisman ke Indonesia menggunakan transportasi udara.

“Tersedianya seat yang memadai untuk mendukung target 15 juta wisman tahun ini dan akan meningkat menjadi 20 juta pada 2019 merupakan persoalan yang harus segera dipecahkan dengan melibatkan semua elemen (pentahelix) pariwisata,” kata Arief Yahya.

Menurut Arief Yahya, keunggulan komperatif pariwisata Indonesia, menjadi yang terbaik di kawasan regional bahkan melampaui ASEAN. “Di level ASEAN, pesaing utama pariwisata Indonesia adalah Thailand. Keunggulan komperatif lainnya, pariwisata Indonesia mudah menjadi destinasi utama dunia sekaligus tourism hub,” kata Arief Yahya.

Menpar, kembali menjelaskan, setelah ditetapkan sebagai core business negara, maka alokasi sumber daya terutama anggaran harus diprioritaskan termasuk anggaran untuk membangun infrastruktur di destinasi pariwisata yang ada di kementerian atau lembaga terkait.

“Komitmen kementerian atau lembaga terkait dalam mendukung percepatan pembangunan 10 destinasi prioritas (Danau Toba; Tanjung Kelayang; Tanjung Lesung; Kepulauan Seribu; Candi Borobudur; Bromo Tengger Semeru; Mandalika; Labuan Bajo; Wakatobi; dan Morotai) dan 14 destinasi unggulan kita jadikan sebagai topik bahasan dalam Rakornas Pariwisata I-2017,” pungkas Arief Yahya. [Fatkhurrohim]