Diskusi Meriah Tentang Diplomasi Kebudayaan oleh Kemlu RI, ICWA dan FPCI Chapter Unpad

Dari Kanan ke Kiri: Anastasia Aletta Gunawan (Ketua FPCI Chapter Unpad), Yoshua (mahasiswa Unpad), Dubes Busyra Al Basnur (Ketua ICWA), Dubes Bagas Hapsoro (Wakil Ketua) ICWA), Joneri Alimin (Plt Dir Diplik), dan Felix Alexander Huang (FPCI Chapter Unpad).

Jalur Internal (ke dalam negeri) menghubungkan kebijakan luar negeri dengan masyarakat agar rakyat paham posisi Indonesia, misalnya soal Palestina dan ASEAN, lewat media sosial @kemlu_ri dan seminar kampus.

Jalur Eksternal (citra positif) memperkuat narasi bahwa Indonesia adalah negara pluralistik, demokratis, dan inklusif dengan modal Bhinneka Tunggal Ika dan toleransi beragama.

Read More

Jalur Plus Satu (Diaspora) memberdayakan 8 juta lebih diaspora sebagai duta budaya, yang mengajarkan gamelan di Berlin, memasak rendang di Sydney, dan memakai batik di KBRI.

Agenda prioritas 2025-2026 meliputi penguatan kerja sama dengan institusi budaya internasional seperti UNESCO, repatriasi benda budaya, peningkatan kerja sama budaya regional dan lintas regional (misalnya integrasi paket umrah dengan kunjungan ke Bosnia, Uzbekistan, Yordania), serta aktivasi pusat kebudayaan Indonesia di luar negeri seperti Rumah Budaya, Indonesian Corner, dan kelas BIPA.

Baca Juga :  Diskusi Terbuka Nusa Putra University Sukabumi Bersama ICWA Tentang ASEAN

Benang merahnya, menurut Dubes Bagas Hapsoro, ”Dari dulu Kemlu konsisten menjadikan toleransi dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai brand utama di forum HAM PBB.

Apa program diplomasi budaya yang tidak banyak diketahui publik?

Plt. Direktur Diplomasi Publik Kemlu, Joneri Alimin (tengah) menjelaskan mengenai diplomasi kebudayaan yang menjadi topik pembahasan.

Pertama, Beasiswa Darmasiswa dan BIPA yang ada sejak 1974. Setiap tahun ditawarkan kepada siswa asing dari negara yang punya hubungan diplomatik dengan Indonesia untuk belajar bahasa, seni, dan budaya. Kini sudah diikuti 135 negara dengan alumni lebih dari 9.000 orang dari 126 negara.

Kedua, Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI/IACS). Hanya 3 bulan (Mei-Agustus), peserta tinggal di sanggar-sanggar di Bali, Solo, Bandung, belajar menari Legong, membuat gamelan, dan membatik. Sekembalinya mereka menjadi agen diplomasi publik dengan membentuk komunitas gamelan di negaranya.

Ketiga, Gastro-diplomacy dan Sister School. Sebagai contoh beberapa KBRI menjalankan diplomasi lokal seperti mendirikan restoran Indonesia di Swedia dan program Sister School, contohnya KBRI Canberra menandatangani MoU dengan institusi yang menaungi 103 sekolah Katolik di Australia Selatan untuk memasukkan kurikulum budaya Indonesia.

Baca Juga :  Bincang Santai Tentang Hubungan India – Indonesia di Kediaman Wakil Dubes India

Keempat, warisan budaya sebagai alat negosiasi. Program Darmasiswa menjadi faktor pendukung pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia, yang berujung dibukanya kembali program New Colombo Plan senilai $400 juta AUD untuk mengirim mahasiswa Australia belajar ke Indonesia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *