Diskusi Meriah Tentang Diplomasi Kebudayaan oleh Kemlu RI, ICWA dan FPCI Chapter Unpad

Dari Kanan ke Kiri: Anastasia Aletta Gunawan (Ketua FPCI Chapter Unpad), Yoshua (mahasiswa Unpad), Dubes Busyra Al Basnur (Ketua ICWA), Dubes Bagas Hapsoro (Wakil Ketua) ICWA), Joneri Alimin (Plt Dir Diplik), dan Felix Alexander Huang (FPCI Chapter Unpad).

Bagaimana posisi Indonesia dalam diplomasi budaya di Global South?

Posisi Indonesia bukan pengikut, tapi jembatan. Jika Barat menjual nilai demokrasi liberal, Indonesia menjual nilai Global South: anti-kolonialisme, pluralisme, dan gotong royong. Di era sekarang, posisi Indonesia adalah raksasa ekonomi baru, jembatan dan pemimpin Global South, serta jangkar stabilitas Asia Tenggara.

Read More

Strateginya ada tiga. Pertama, nostalgia strategis menghidupkan Semangat Bandung 1955. Agenda konkretnya mengusulkan Jalan Asia Afrika Bandung jadi Warisan Dunia UNESCO dan rencana Konferensi Asia Afrika II tentang AI, ketahanan pangan, dan reformasi PBB.

Kedua, menjadi bridge builder antara Utara dan Selatan. Budaya dipakai sebagai bahasa netral lewat forum seperti CHANDI 2025 di Bali dan IPACS 2025 di Kupang bertema “The Sea Between Us, The Culture Within Us” yang mengundang negara Pasifik Selatan dan Afrika.

Ketiga, diplomasi budaya yang ditukar dengan kepentingan ekonomi. Indonesia menawarkan beasiswa dan pelatihan vokasi ke Afrika dan Pasifik, imbalannya dukungan suara di UNESCO. Buktinya, Juni 2026 Indonesia meraih 113 suara di UNESCO untuk masuk Komite Warisan Budaya Takbenda, suara tertinggi sejak 2018.

Baca Juga :  Paparan ICWA di Depan Para Siswa Sekolah Diplomatik India di Kedutaan Besar India

Usaha Restitusi Benda Budaya

Prinsip restitusi bukan sekadar mengembalikan barang, tapi pemulihan memori kolektif, martabat, dan identitas. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan repatriasi penting untuk melengkapi narasi sejarah. Bahkan Menteri Belanda Eppo Bruins mengakui barang curian tidak seharusnya disimpan di Belanda.

Hingga akhir 2024, sebanyak 828 objek warisan budaya telah dipulangkan, termasuk Koleksi Pita Maha, Harta Karun Lombok, dan 68 objek dari Museum Rotterdam. Gelombang I (2023) meliputi Koleksi Lombok yang dirampas 1894, Koleksi Pita Maha Bali, dan manuskrip Negarakertagama. Gelombang II (Oktober 2024) sebanyak 288 objek, termasuk empat arca Hindu-Buddha (Bhairava, Nandi, Ganesha, Brahma) dan 284 benda dari Koleksi Puputan Badung 1906.

Ketua ICWA, Dubes Busyra Al Basnur tengah menguraikan tentang “People at
the heart of diplomacy”: langkah menuju pemain global.

Gelombang III (2025-2026) sedang berjalan. Setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan Raja Willem-Alexander Oktober 2025, Belanda sepakat mengembalikan 30.000 artefak. Tahun 2026 ditargetkan 300 item pertama berupa pedang kerajaan, kain batik abad 17, topeng wayang Majapahit, dan peta VOC Batavia.

Wakil Ketua ICWA Dubes Bagas Hapsoro mengapresiasi makna dan tema FPCI, “People at the Heart of Diplomacy”. Diplomasi modern bukan lagi state-to-state, tapi people-to-people. Negara kuat bukan karena senjatanya, tapi karena ”ceritanya” didengar dan dipercaya orang. Budaya adalah superpower Indonesia. Ketika mengajak diplomat asing ”ngopi”, nonton wayang, atau mendengar gamelan, itu bukan sekedar ”hospitality”, tapi diplomasi budaya untuk membangun kepercayaan.

Baca Juga :  ”Pasukan TNI yang Ke Gaza Harus Mengikuti Keteladanan Kontingen Garuda”

Para mahasiswa FPCI, pengurus ICWA, pejabat Diplik dan satuan kerja Kemlu terkait sepakat diskusi tentang diplomasi kebudayaan tersebut sangat penting dan perlu ditindaklajuti mengingat berbagai program edukatif yang mendorong peningkatan pemahaman publik terhadap isu internasional.

Diakhir pertemuan pada umumnya para delegasi FPCI Chapter Unpad menyampaikan penghargaan dan sepakat bahwa Kemlu RI menjadi pilihan utama dalam program ini karena menurut mereka Kemlu RI mampu memperkaya wawasan-wawasan mahasiswa melalui pematerian topik yang relevan dan melalui sharing session mengenai karir di Kemlu yang menjadi ketertarikan anggota FPCI Unpad.

Menutup pertemuan Plt Dir Diplik Jonerin Alimni menyatakan siap untuk berdiskusi dan bertukar pikiran lagi dan menghargai tekad FPCI sebagai komunitas penggemar untuk memperdalam kebijakan luar negeri dan diplomasi. Pertemuan penuh kekeluargaan itu dilanjutkan dengan sesi penutupan, foto bersama, penyerahan apresiasi. Kunjungan diakhiri dengan Sesi Office Tour dipandu oleh Ditjen Protokol dan Konsuler Kemlu RI.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

  • Penulis : Cynthia L. Ramadani
  • Editor : Fatkhurrohim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *